Dina dan Dewi, sapaan karibnya, berhasil menjadi Presenter International “The 1st Sunan Ampel Internasional Conference of Political and Social Sciences (SAICoPSS) yang diselenggarakan UIN Sunan Ampel Surabaya. Acara yang berlangsung pada 11-12 Agustus 2021 melalui media live zoom meeting dan YouTube. Acara tersebut juga diisi oleh beberapa keynote speaker dari beberapa dosen perguruan tinggi di Indonesia.
Salah satu pembahasan dari acara tersebut bertemakan “Internet and Social Media During Pandemic” dalam tema tersebut Dina dan Dewi mempresentasikan paper dengan mengangkat judul virtual learning education: Knowing Enhancement Effort for Disaster Emergency Response in Covid-19 Pandemic. Ia mengangkat judul tersebut karena pentingnya internet dan media sosial sangat dibutuhkan pada saat pandemi covid 19 termasuk juga dalam meningkatkan kesadaran tangggap darurat bencana pada masa pandemi covid 19.
Baca juga: Karya Book Chapter UKK KSR PMI Unit IAIN Pekalongan
Baca juga: Karya Life Hack PP UKK KSR PMI Unit IAIN Pekalongan
Edukasi secara daring merupakan terobosan yang terbilang baru untuk masyarakat awam di Indonesia, khususnya para pelajar dan mahasiswa. Melakukan edukasi secara daring memiliki kelebihan seperti; bisa menghenmat waktu, melakukan dari rumah, dan irit uang transport ke acara tersebut. Namun selain memiliki kelebihan, edukasi secara daring juga memiliki kekurangannya tersendiri, seperti; pemakaian kuota internet yang tidak sedikit, sinyal yang kurang stabil di daerah-daerah tertentu, dan mata yang menjadi cepat lelah karena melihat layar komputer atau hp terlalu lama.
Melihat pada data bahwa Indonesia belum selesai menghadapi perang pandemi Covid19, maka peran media sosial sekarang begitu dibutuhkan dan menjadi kepentingan untuk melaksanakan berbagai macam edukasi, salah satunya yaitu tanggap darurat bencana. Melalui media, kita dapat melakukan beberapa edukasi sebagai upaya untuk meningkatkan akan pemahaman pentingnya sadar bencana dan juga tanggap darurat bencana.
Melalui pemaparan penulis, dapat kita amati titik temu benang merah sebenarnya yaitu terletak pada minimnya pengetahuan tanggap darurat bencana. Selain itu juga perang pandemi yang masih terjadi menyebabkan peralihan akses sosialisasi tanggap darurat bencana yang semula offline menjadi online. Virtual learning education hadir sebagai solusi untuk menjawab tantangan tersebut.



