Terdapat empat sesi dalam Tes Pradiklat, yaitu tes tertulis, tes praktik, tes wawancara, dan tes fisik, dengan masing-masing memiliki kriteria penilaian. Tes tertulis terdiri dari 30 soal pilihan ganda, isian singkat, dan uraian, yang harus diselesaikan dalam waktu 30 menit. Tes praktik mencakup pertolongan pertama (PP) dan evakuasi. "Kami memilih bidang PP sebagai tes praktik karena menjadi salah satu capaian penting dalam diklatsar, juga mengingat relevansinya dengan penanganan korban kecelakaan yang sering ditemui di sekitar kita," ujar M. Rizka Alfani.
Hasil tes menunjukkan bahwa calon anggota baru belum sepenuhnya menguasai praktik pertolongan pertama, mereka lebih fokus pada teori dibanding praktik. Menurut Hudha Muzaki, penguji di sesi Pertolongan Pertama (PP), kurangnya kemampuan ini disebabkan oleh latar belakang yang berbeda-beda di antara calon anggota. "Beberapa di antaranya pernah menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR), sementara yang lain tidak," jelasnya. Ia menambahkan bahwa kendala yang sering ditemukan dalam praktik ini adalah terkait perkenalan dan pencermatan ilustrasi kasus. "Padahal, menurut saya, saya sudah menjelaskan kasusnya dengan cukup jelas," tambah Hudha.
Dalam sesi wawancara, calon anggota baru mendapatkan beberapa pertanyaan lisan mengenai diri mereka untuk mengukur sejauh mana motivasi mereka bergabung dengan KSR PMI. Wawancara dilakukan secara langsung (tatap muka) antara calon anggota dan penguji. Karomatul Maryamah, salah satu penguji di sesi wawancara, menggambarkan suasana tes yang berlangsung santai, tanpa ketegangan, berkat upaya tim penguji menciptakan lingkungan yang nyaman.
Pada tes fisik, calon anggota baru diharuskan menjalani serangkaian latihan seperti lari, push-up, sit-up, dan back-up. Selain itu, pengetahuan dasar mengenai Perawatan Keluarga (PK), Pendidikan Remaja Sebaya (PRS), Ayo Siaga Bencana (ASB), serta Kepalangmerahan dan Hukum Perikemanusiaan Internasional (KMHPI) juga diujikan. Menurut Fauzan, salah satu penguji tes fisik, terdapat beberapa hambatan yang dialami oleh calon anggota, selain faktor kekuatan fisik. "Ada yang tidak bisa berlari karena kakinya sakit, tapi alhamdulillah semuanya dapat menyelesaikan tes fisik dengan baik," ujarnya.
Beberapa calon anggota baru mengungkapkan bahwa tes praktik pertolongan pertama adalah yang paling sulit. “Saya kesulitan saat tes evakuasi, saya paham alurnya, tetapi mungkin teman saya tidak, sehingga terjadi kesalahan saat mengangkat korban,” ujar Kamaliya Ramadani. Farhan Huzein menilai tingkat kesulitan tes Pra-Diklat ini adalah 7 dari 10. “Mungkin jika mengikuti larut 1 dan 2, akan lebih mudah, tetapi saya mengalami kesulitan dalam menjawab beberapa soal di sesi tes tertulis. Saya hanya bisa berharap semoga lolos sih meskipun agak pesimis” ungkapnya. Rafli Maulana Ishaq, Komandan KSR 2024, menilai bahwa kegiatan Pra-Diklat tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dalam hal efisiensi waktu dan manajemen panitia.
Dengan berakhirnya Tes Pra-Diklat XIII, KSR PMI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tidak hanya menyiapkan calon anggota baru yang kompeten, tetapi juga membangun semangat solidaritas dan kepedulian di kalangan generasi muda. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menciptakan relawan yang siap berkontribusi di bidang kemanusiaan.
Harapan ketua SC (Steering Committee), yaitu Ismatul Khasanah ke depan adalah agar semua peserta dapat terus mengasah keterampilan dan pengetahuan mereka, serta siap beraksi saat dibutuhkan di masyarakat. “Saya juga berharap tes Pra-Diklat ini dapat menghasilkan anggota baru yang berkualitas,” tambahnya. KSR PMI UIN Gusdur akan terus mendukung dan membimbing para calon anggota ini dalam perjalanan mereka menjadi relawan yang berdedikasi dan profesional.
Pawarta: Maulinda Anggraeni

.jpg)



